Kecak: Kisah Pertarungan Subali Sugriwa Yang Menjadi Ikon Pulau Dewata

  • 11 November 2019
  • Oleh: Denpasar Kota
  • Dibaca: 41 Pengunjung

Sebuah festival seni yang diadakan di Bali belum lengkap rasanya kalau  belum menghadirkan tari Kecak. Ya, tari ini sudah menjadi ikon Pulau Dewata, sehingga turis asing yang datang ke Bali pasti menyempatkan diri untuk melihat pertunjukan Kecak. 

Demikian pula halnya dengan Festival Bali Jani 2019. Mendekati penghujung festival, sebanyak 60 penari Kecak yang tergabung dalam Sanggar Cak Rina menampilkan atraksi Kecak pada Kamis (7/11/2019) malam. Gelar Kecak yang berlangsung di panggung Madya Mandala ini bertajuk ‘Salah Paham’ dan ditarikan langsung oleh pemimpin sanggar, I Ketut Rina, seniman Kecak yang telah melalang buana memperkenalkan seni Kecak.  

Keenam puluh penari Kecak yang tampil pada hari ini tak hanya melibatkan penari berusia muda saja, melainkan melibatkan penari mulai dari usia belia, yakni 7 tahun, hingga yang sudah berumur. “Dalam Festival Bali Jani ini, saya membawakan sekitar 60 orang, dari anak kecil umur 7 tahun, sampai orang tua. Ini ada anaknya, bapaknya, kakeknya. Ada tiga generasi,” ungkap I Ketut Rina. 

Dalam kiprahnya di dunia Kecak, Ketut Rina tidak pernah menampilkan pertunjukan yang sama, baik dari pertunjukan Kecak lain maupun Kecak dari sanggarnya. “Kita harus berani beda daripada yang lain. Kenapa? Inilah kekuatan ciri khas saya, setiap saya tampil, itu pasti berbeda. Walau pun ceritanya sama, pasti ada unsur-unsurnya atau beberapa bagian yang bisa saya ubah,” lanjut pria asal Banjar Tegeskanginan, Desa Peliatan Ubud ini. 

Adapun cerita yang dibawakan dalam pertunjukan Kecak biasanya berpusat pada pertempuran antara Subali dan Sugriwa, tokoh kakak-beradik dalam kisah epik Ramayana yang karena kesalahpahaman, akhirnya bertarung melawan satu sama lain. Pertempuran ini, oleh Ketut Rina, ditanggapi secara berbeda dari sudut pandang yang lain. “Cerita yang saya pakai ini, Salah Paham, pertempuran antara Subali dan Sugriwa. Yang saya maksud dengan Subali-Sugriwa itu adalah Subali-Sugriwa yang ada di dalam diri kita sendiri. Dan situasi  sekarang ini pas, kita sedang krisis kepercayaan. Tidak percaya sama teman, tidak percaya sama keluarga, saling curiga,” jelas seniman Kecak yang telah memulai kiprahnya pada tahun 1974 di usia 11 tahun ini. 

Tarian ini turut menyertakan atraksi permainan api yang menjadi salah satu ciri khas tari Kecak. Tak hanya itu, penonton yang menyaksikan pertunjukan ini juga turut terlibat. Buktinya, salah satu penonton turut maju ke depan panggung dan berpartisipasi dengan ikut memukul-mukulkan rangkaian daun plawa ke lawan penarinya. Hal ini sontak menimbulkan riuh tawa dari ratusan penonton yang menyaksikan tari Kecak ini.


  • 11 November 2019
  • Oleh: Denpasar Kota
  • Dibaca: 41 Pengunjung

Datang & Kunjungi Terkait Lainnya