Rare Bali Festival

  • Agustus 2014
  • Oleh: Aridus
  • Dibaca: 6769 Pengunjung
Rare Bali Festival

Begitukata terucap gayung pun tersambut! Gagasan dan pikiran baik dan mulai tidak menunggu terlalu lama menuai respondan reaksi masyarakat. Apa lagi konsep yang dilontarkanmerupakan endapan pemikiran sekelompok masyarakat yang menunggu kesempatan tepat dan pas untuk disalurkan. Rare Bali Festival 2014 ditenggarai  sebagai gayung yang menyambut guyuran gagasan Revolusi Mental yang terlontar dari seorang calon presiden. Saat kampanye pemilihan Umum Presiden – Wakil Presiden/Pilpres 2014. Di sebut tepat dan pas, karena kelompok masyarakat dan pilpres itu memiliki obsesi serupa tentang persoalan krusial yang menghadang langkah negara dan bangsa untuk mencapai cita-cita kemerdekaannya yakni masyarakat adil, makmur, berdasarkan Pancasila. Hambatan bersumber pada degradasi moral,ahklak,dan mentalitas !

“Ditengah hiruk pikuk suasana politik yang potensial mengancam soliditas persatuan  bangsa dan keutuhan bangsa sebagai ekses pilpres 2014, sekelompok masyarakat menggelar sebuah festival bernuansa seni dan budaya khusus melibatkan anak-anak dibawah usia akil balik. Penggagas dan penyelenggara acara adalah para seniman sebagai aliran yang tergabung dalam komunitas Penggak Men Mersi, berlokasi di Kesiman, Denpasar timur. Pemilik bangunan serupa bangsal beraksitektur unik itu adalah Anak Agung Ngurah Gede Kusuma Wardana, mantan politisi yang mundur sebagai wakil rakyat tahun 1998, karena sadar dirinya tidak cocok jadi dewan politik alias zoon politicon, yang demi kekuasaan cenderung menghalalkan segala cara. Juga, sebagai pemuka atau moncol Puri Kesiman, jiwanya seakan ditarik kekuatan mistik untuk bergerak diwilayah kebudayaan, tradisi, dan kemanusiaan seperti yang dilakukan para leluhurnya dulu. Dia tidak terlalu peduli disebut kolot, culun, bahkan gila akibat aktivitas yang dilalukannya sekarang. Sebab untuk membangkitkan kembali apa yang nyaris tenggelam membutuhkan ‘orang gila’ yang tidak terlalu silau menyikapi keglamoran modernitas. Justru karena terbius sihir modernitas yang menawarkan hedonisme dan konsumerisme, kita terperangkap jaring-jaring imperialisme budaya. Menurut Kusuma Wardana, anak-anak usia dini perlu diberi pemahaman masalah penjajahan bentuk baru itu lewat Rare Bali Festival “ujar Rubag.

“Ya, aku masih teringat pada tahun 1970-1980-an ada dua ‘orang gila’ yang menghamburkan tenaga, pikiran dan uang untuk mengangkat prestise Bali dicabang olahraga tinju. Daniel Bahari dan Anak Agung Ngurah Pong Yudhanegara adalah kedua orang itu, yang mulai upaya pembibitan tinjunya lewat program ‘Tinju Masuk Desa’. Walhasil, hampir selama dekade 1980-an prestasi Bali gemilang dicabang tinju Nasional, juga SEA Games bahkan beberapa kelas mendulang piala emas di kejuaraan bergengsi Sarung Tinju Emas atau Golden Glove. Mudah-mudahan di bidang kebudayaan, tradisi dan kemanusiaan, khususnya Manusia Bali, Penggak Men Mersi mampu membangkitkan kembali unsur-unsur warisan leluhur yang terkapar pingsan dihantam imperialisme budaya. Penggak, sebetulnya adalah sebutan tradisional untuk kedai yang menjual makanan dan minuman, yang kini nyaris tak tampak lagi di Denpasar karena dihalau toko-toko modern. Namun penggak disini akronim dari penggalian akar kebudayaan, juga berarti penggagas kreativitas kreatif. Men tetap berarti ibu. Mersi adalah akronim dari manajemen, edukasi, religius, sain dan inovasi. Bila dipandang dari kacamata kekinian, dimana masyarakat banyak yang terbius budaya instan, rasanya mustahil dan terkesan utopis untuk memulai revolusi mental dengan festival yang melibatkan anak-anak usia dini. Namun untuk menggarap orang-orang dewasa, terlebih-lebih tua justru lebih musykil karena mereka sudah terbiasa hidup di bawah sirih modernitas yang pragmatis, materialisdan individualitis. Justru anak-anak yang masih relatif bersih dari coreng moreng hedonisme dan konsumerisme, lebih mudah digarap sesuai teori tabularasa Dewey, “papar Wahyudita.

“Sinisme pasti akan ada, namun jumlah mereka yang bersikap seperti itu tidak terlampau banyak. Sebab, kita menginginkan Bali tetap Bali seperti dulu, kendati tidak menafikan bahwa perubahan adalah suatu hal yang pasti. Kendati ada yang berubah mengikuti peradaban zaman, namun inti dari budaya, tradisi dan kemanusiaan orang Bali, seharusnya tidak berubah total. Inilah tema Rare Bali Festival yang berbunyi ‘merawat tunas peradaban’, di mana bagian-bagian peradaban yang nyaris di gempur modernitas, ditumbuhkan kembali dan dikembangkan. Paling tidak dengan menampilkan kembali apa yang pernah ada di Bali saatituibu-bapak,kakek-nenek mereka masih anak-anak , akan hidup terus bila mereka ikut menumbuh kembangkan. Segala jenis permainan anak-anak yang dulu dimainkansaat jeda atau di bawah sinar bulan purnama menjelang tidur, di gelar kembali pada Festival Rare Bali itu. Juga kegiatan membantu orang tua, seperti menghaturkan saiban dan canang, mejejahitan, ngulat tipat, bahkan pergi ke sungai dan sawah, dimasukan pula dalam acara itu. Mendongeng, macanda dan segala bentuk permainananak-anak tempo dulu, termasuk menyanyikan lagu-lagu dolanan akan menyadarkan anak-anak bahwa kerukunan bermasyarakat berakar dari kerukunan yang mereka bina sejak kecil. Hal seperti ini selama puluhan tahun lenyap diusir peradaban baru yang diusung modernitas. Segala permainan dipindahkan ke mal, shopping center,net games dan play station, melahirkan individualismedan egoisme berlebihan,” tambah Dendi.

Curik-curik manggis semental layang-layang boko-boko, tiang meli pohe aji satak aji satus keteng, mare bakat anak bagus peceng. Begitu jenis permainan dan dolanan yang aku tetap ingat saat masih anak-anak dulu, yang diikuti belasan kawan. Penuh tawa dan guyon, bahkan setelah permainan itu terasa menjemukan, kita beralih ke petak umpet alias mealih-alihan. Jadi anak-anak bermain dan bercanda dengan puas saat itu, sehingga persahabatan kami benar-benar merasuk ke hati, bukan basa-basi  bahkan tatkala dukapun kami rasakan bersama. Permainan yang lebih ekstrim dan hanya diikuti laki-laki berupa permainan mecepetan yakni berusaha mampu menyentuh kepala lawan. Gerakannya seperti Stephen Siegel dalam  aikidodi film, di mana sepasang pemain duel memperlihatkan kecepatan tangan untuk menyerang maupun menangkis. Seluruh pemain dibagi atas dua grup dengan jumlah sama untuk masing-masing grup. Lawan yang tersentuh kepalanya dinyatakan kalah, harus secara sportif duduk mengitari arena dan memberisemangat kepada kawan yang melanjutkan laga. Jadi, hampir semua permainan anak-anak di Bali yang jumlahnya puluhan jenis berakhir dengan menang dan  kalah, namun tidak menimbukan permusuhan setelah permainan usai, justru menambah lekatnya persahabatan. Bila dipikir-pikir secara mendalam, ini semacam pembangunan watak yang jujur,sportif, welas asih, kendati ada unsur persaingan buat menang, tapi kalau kalah diterima secara legowo tanpa harus marah dan ngamuk,” komentar Sudiarsa.

“Mungkin itu penyebabnya dulu di Bali tidak pernah terdengar ada kerusuhan atau tawuran massal antara banjar yang satu dengan yang lain. Sebab sejak rare atau usia dini mereka dididik untuk berahklak sportif, menerima kekalahan dan tidak sombong saat menang, sehingga persahabatan terus terjalin hingga usia dewasa. Semoga Rare Bali Festival 2014 ini bisa membangkitkan mentalitas itu dan diselenggarakan secara berkesinambungan, sekaligus menunjang  gagasan Revolusi Mental yang dilontarkan saat kampanye pilpres lalu. Bila perlu disambung dengan Festival Remaja Bali dan Festival Manusia Usia Lanjut (Manula) Bali, agar terjadi keseimbangan antara berbagai usia. Memang terkesan agak utopis, namun lebih baik daripada pasrah menerima keadaan yang semakin amburadul,” tambah Rai Ardana”.   Aridus(Sumber : Balipost Edisi 10 Agustus 2014)

  • Agustus 2014
  • Oleh: Aridus
  • Dibaca: 6769 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Berita Lainnya