Emisi CO2 di Kota Denpasar Tahun 2020 Diprediksi Mencapai 1,58 Juta Ton

  • 20 Agustus 2018
  • Dibaca: 189 Pengunjung
Emisi CO2 di Kota Denpasar Tahun 2020 Diprediksi Mencapai 1,58 Juta Ton

Emisi CO2 di Kota Denpasar pada tahun 2020 diprediksi mencapai 1,58 juta ton/tahun. Prediksi tersebut tertuang dalam sebuah penelitian berjudul “Inventarisasi Emisi Sumber Bergerak di Jalan (On Road) Kota Denpasar” yang dipublikasikan dalam Jurnal Ecotrophic, volume 9 nomor 1 tahun 2015.


Para peneliti yang terdiri dari Christine Prita Purwanto, I Wayan Arthana dan I Wayan Suarna memberikan analisis bahwa tingginya nilai CO2 diakibatkan karena arus lalu lintas padat sehingga menyebabkan kemacetan lalu lintas. Dalam kondisi lalu lintas macet, pembakaran bahan bakar (bensin dan solar) pada mesin kendaraan bermotor tetap berlangsung mengeluarkan emisi.

Sisa hasil pembakaran bahan bakar minyak yang digunakan oleh kendaraan bermotor adalah sumber utama dari emisi CO2 di Kota Denpasar yang terkonsentrasi di jalan-jalan utama dengan tingkat mobilitas yang sangat tinggi. Pembakaran bensin maupun solar akan lebih efisien jika mobil atau motor dilarikan dengan kecepatan yang konstan, dan mengurangi frekuensi pengereman dan menstarter. Sebaliknya dalam kondisi jalanan macet maka pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor tidak akan efisien lagi dan tidak sempurna, pada saat itu yang terjadi adanya pengumpulan senyawa-senyawa yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor pada satu tempat.

 

 

 

 

 

 

 

 

Jumlah kendaraan bermotor dari tahun ke tahun jumlahnya terus meningkat, dimana pada tahun 2003 jumlah kendaraan bermotor di Kota Denpasar berjumlah 345.332 unit dan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sampai tahun 2007 sebesar 481.086 unit dengan kenaikan rata-rata sebesar 7% tiap tahunnya. Peningkatan kepadatan lalu lintas dan hasil buangan emisi yang merupakan salah satu sumber pencemaran udara sekaligus berpotensi menimbulkan masalah lingkungan yang serius dan juga berdampak pada kesehatan.


Para peneliti yang berasal dari Program Studi Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Udayana menyebutkan tingginya nilai prediksi emisi di tahun 2020 dari sektor transportasi akan berdampak langsung pada peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang menyababkan perubahan iklim global dan peningkatan suhu bumi diikuti dengan meningkatnya permukaan air laut akibat pencairan es di wilayah Kutub.

Dampak peningkatan konsentrasi GRK akan mengakibatkan beberapa keadaan yang merugikan, seperti bencana banjir, kekeringan dan meningkatnya penyakit tropis (malaria dan demam berdarah).

Para peneliti menyarankan perlu dilakukan suatu upaya untuk mengurangi kuantitas sepeda motor digantikan dengan kendaraan yang memuat penumpang lebih banyak terangkut sehingga pemakaian sepeda motor berkurang.

Selain itu, perlu diberlakukan pemeriksaan efisiensi proses pembakaran kendaraan bermotor secara berkala sebagai upaya pencegahan emisi yang lebih besar.

  • 20 Agustus 2018
  • Dibaca: 189 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita