Ogoh Ogoh Banjar Suwung Batan Kendal

  • 01 Maret 2019
  • Dibaca: 144 Pengunjung
Ogoh Ogoh Banjar Suwung Batan Kendal

"Himsa Karma"

Himsa Karma merupakan salah satu perbuatan manusia yang berhubungan dengan ; "kekerasan, menyakiti, melukai, dan membunuh". Konsep ajaran Himsa Karma sangatlah bertentangan dengan "ajaran Ahimsa Karma" dimana Ahimsa Karma memiliki arti kebalikan dari Himsa Karma yaitu ; "tidak melakukan kekerasan, tidak menyakiti, tidak melukai, dan tidak membunuh". Adapun ajaran Himsa dan Ahimsa Karma ini adalah sebuah ajaran Agama Hindu yang digunakan sebagai acuan untuk bertindak. Konsep ajaran ini pertama kali digunakan dalam "Uphanisad" sekitar tahun 800 SM.

Ajaran Himsa dan Ahimsa Karma ini sangat banyak dipengaruhi semenjak turunnya Dewa Wisnu sebagai Budha Awatara yang menjelema sebagai pangeran "Sidharta Gautama". Pada masanya ketika itu banyak brahmana di india yang menyalagunakan upacara Weda demi kepuasan sendiri, seperti melakikan pengorbana binatang yang sia-sia dan tidak berguna.

adapun pemahaman dari cerita di atas bahwa perbuatan yang selama ini kita lakukan (khususnya kita sebagai manusia) yang memiliki "Tri Pramana" Bayu, Sabda, Idep atau Bergerak, Berbicara, Berpikir tidakkah sangat kejam bagaimana jika hewan (binatang) tersebut memiliki Tri Pramana yang dimiliki manusia. sangat lah mungkin bilamana binatang-binatang tersebut dapat bergerak, berbicara, berpikir, mereka akan merasakan kesakitan dari tindakan semena-mena seperti membunuh binatang, dijadikan sebagai bahan makanan bagi manusia. Dan bila saja hal tersebut beralik terjadi terhadap kita sebagai manusia contohnya memotong hewan babi dan ayam bahan konsumsi kita. Pastilah hal dan perasan yang sama akan kita (manusia) rasakan jika diperlakukan seperti hewan-hewan tersebut.

Jadi ide konsep "Himsa Karma" ini di ambil intuk mennamkan rasa "Iba" manusia terhadap makhluk lain khususnya hewan. Karena "Himsa Karma" memiliki makna ;  "kekerasan, menyakiti, melukai" dimana sifat-sifat ini secara tidak langsung sudah sangat mencerminkan sifat "Bhuta Kala" yang sebenarnya.

 

Via : ogohogohdenpasar 

  • 01 Maret 2019
  • Dibaca: 144 Pengunjung

Seni Budaya Terkait Lainnya

Cari Seni Budaya