LKB Saraswati Jakarta Unjuk Kemampuan Di Ajang PKB 2019

  • 08 Juli 2019
  • Oleh: Denpasar Kota
  • Dibaca: 274 Pengunjung

Penonton tampak memenuhi deretan kursi yang tersedia, tak membiarkan timbul celah barang setitik. Makin mendekati waktu tampil wantilan terasa makin sesak. Suara obrolan penuhi ruangan itu. Fokusnya terpecah kemana-mana hingga dengan sebuah kalimat lantang dari sang pembawa acara berhasil menarik puluhan mata untuk mengarah ke satu titik. Hening tak ada penonton yang berbicara sedikitpun.
 Hanya suara tegas laki-laki yang bergema membuka pertunjukkan Tari Bali dan Fragmentari dari Lembaga Kesenian Bali (LKB) Saraswati Jakarta. “ LKB Saraswati ini berdiri sekitar 51 tahun, dan memiliki anggota dari berbagai asalnya, ada juga yang berasal dari luar,” ungkap Pemimpin LKB Saraswati, I Gusti Kompyang Raka di sela-sela pertunjukan pada Minggu (7/7) di Wantilan Taman Budaya Denpasar. Kurang lebih sekitar 130 penari yang ikut memeriahkan jalannya penentasan ini. Riuh tepuk tangan sontak saja bergemuruh pekakkan telinga. Tak lama setelahnya alunan gamelan warnai suasana di siang itu.

Tari Sri Kamelawi menjadi tarian pembuka. Senyum terus terlukis di wajah ketujuh penari itu. Setelah itu berturut-turut dilanjutkan Tari Saraswati, Tari Kanyaka Sura. Tari Kanyaka menggambarkan bidadari yang turun ke Marcapada untuk menggempur Raja Maya Denawa. Tarian ini diciptakan oleh Tjokorda Istri Putra Padmini. Dihiasi dengan Tari Ketek-Ketek yang merupakan sebuah tarian yang menggambarkan sekelompok perilaku anak baru gede yang masih malu-malu ingin menunjukkan rasa senang dan jatuh hati kepada lawan jenisnya.  
Setelah itu tampil Tari Satya Brastha. Tari Satya Brastha memiliki arti yaitu Satya dan Brastha yang sama-sama memiliki arti setia dan gugur. Tarian ini melukiskan para satria darah Barata yang rela mengorbankan jiwa raganya di medan perang.
 Fragmentari Cupu Manik Astagina menjadi pementasan utama LKB Saraswati Jakarta di Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 tahun 2019. Fragmentari ini mengisahkan hidup Rsi Gotama dan istrinya Dewi Indradi serta tiga orang putra dan putrinya. Dewi Anjani memiliki sebuah pusaka “Cupu Manik Astagina” yang diberikan oleh ibunya. Hal itu membuat kedua saudara laki-lakinya iri dan ingin mempunyai pusaka tersebut.

Lalu kedua bersaudara tersebut menanyakan kepada ayahnya dan mengganggap bahwa ayahnya pilih kasih. Alhasil Rsi Gotama memanggil istrinya Dewi Indradi untuk menanyakan hal tersebut dan membuat Rsi Gotama marah sehingga dikutuknya menjadi batu dan pusaka tersebut dibuangnya di tengah hutan dan terbelah menjadi dua. Ditari-kan dengan penuh perasaan sehingga mampu menyihir para penontonnya sepanjang pertunjukkan.
“Aku ikut sanggar ini karena aku ingin mulai dari tari tradisional,” ungkap penari dalam fragmentary Cupu Manik Astagina, Linda Patimasang. Linda bercerita kurang lebih membutuhkan waktu satu bulan untuk berlatih sebelum dipentaskan saat PKB. Kesulitan dalam membagi waktu menjadi faktor utama. Terlebih lagi Linda merupakan Wanita karir yang harus memprioritaskan karirnya ketimbang hobinya ini.

“Harapan aku untuk sanggar ini semoga semakin berkembang. Kalau untuk aku sendiri semoga bisa membawakan tarian sesuai dengan ekspetasi penonton. Untuk orang Bali-nya sendiri semoga terus maju dan terus melestarikan kebudayaannya,”ungkap Linda (39).


  • 08 Juli 2019
  • Oleh: Denpasar Kota
  • Dibaca: 274 Pengunjung

Datang & Kunjungi Terkait Lainnya