Makna Sugihan Jawa & Sugihan Bali

  • 30 Maret 2017
  • Oleh: kominfo
  • Dibaca: 409 Pengunjung
Makna Sugihan Jawa & Sugihan Bali

Menjelang Hari Raya Galungan, para semeton mungkin pernah mengobrol tentang bagaimana persiapan menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan. Mungkin salah satu topik pembicaraan dan pertanyaan yaitu mengenai hari Sugihan. Pertanyaannya sederhana,"Kamu Sugihan apa?" Mungkin diantara para semeton menjawabnya dengan jawaban,"Saya Sugihan Jawa" atau "Saya Sugihan Bali". Diantara pembicaraan tersebut pasti akan mengarah dan menghubung-hubungkannya dengan sejarah, dimana orang yang melangsungkan Sugihan Jawa, "Kone" atau katanya berasal dari Jawa karena kemungkinan leluhurnya dulu berasal dari Jawa atau leluhunya berasal dari Majapahit.


Itu baru Sugihan Jawa, bagi para semeton Hindu yang merayakan Sugihan Bali, mereka akan menjawab bahwa leluhur mereka terdahulu memang "Asli Bali". Karena merasa bahwa clan atau sorohnya berasal dari "Bali Mula" atau "Bali Aga". Terlepas semua cerita di atas, berdasarkan sastra Lontar Sundarigama telah dijelaskan sebagai berikut :

Sugihan Jawa atau Sugihan Jaba adalah sebuah kegiatan rohani dalam rangka menyucikan alam semesta (Bhuana Agung). Sugihan Jawa ini jatuh pada hari Kamis, Wage Sungsang. Menurut lontar Sundarigama dijelaskan bahwa Sugihan Jawa merupakan pesucian dewa semua bhatara. Pelaksanaan upacara ini dengan membersihkan alam lingkungan, baik pura, tempat tinggal, dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci.

Sedangkan, Sugihan Bali jatuh pada hari Jumat Kliwon wuku Sungsang (sehari setelah Sugihan Jawa). Menurut lontar Sundarigama, Sugihan Bali berarti menyucikan diri sendiri jasmani-rohani masing-masing/mikrocosmos (Bhuana Alit) yaitu dengan memohon tirta pembersihan/penglukatan.

Jadi dapat disimpulkan mengenai Sugihan Jawa dan Sugihan Bali hendaknya tidak ada yang melaksanakan hanya salah satunya saja. Karena sudah dijelaskan diatas akan makna penting dari sugihan sugihan tersebut. Jadi alangkah baiknya untuk melaksanakan kedua sugihan tersebut agar kita terlepas dari godaan dalam menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan nanti.


sumber : www.beritabali.com

  • 30 Maret 2017
  • kominfo
  • Dibaca: 409 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Berita Lainnya